KALIMANTAN TIMUR — Data BMKG mencatat sejumlah gempa bermagnitudo 5,0 ke atas sepanjang September hingga awal Oktober 2026. Saat guncangan terjadi dan anak sedang belajar di sekolah sementara ibu berada di kantor, enam langkah berikut membantu Anda tetap tenang dan bertindak tepat.
Bagi orang tua yang bekerja, skenario gempa saat anak berada di sekolah selalu memunculkan pertanyaan yang sama: harus langsung menjemput atau menunggu arahan? Rasa cemas itu wajar, tetapi keputusan impulsif justru bisa menambah risiko.
Kesiapsiagaan keluarga jadi kunci. Sebelum guncangan terjadi, ada baiknya ibu dan ayah sudah menyepakati rencana darurat yang jelas.
Saat guncangan masih berlangsung, lindungi diri di tempat aman. Jangan bergegas keluar bangunan ketika tanah masih bergoyang.
Setelah guncangan berhenti, barulah cari informasi dari sumber resmi seperti BMKG, BNPB, BPBD, atau pengumuman sekolah. Kepala dingin membuat ibu bisa memikirkan langkah berikutnya dengan jernih.
Gempa bisa merusak bangunan, memutus kabel listrik, dan memicu kemacetan panjang karena banyak orang bergerak sekaligus. Bergerak tanpa tahu kondisi jalan hanya menambah risiko.
Ikuti arahan pihak berwenang. Bila ada ancaman tsunami, evakuasi ke tempat aman sesuai instruksi resmi, bukan ke arah sekolah yang mungkin justru berada di zona bahaya.
Sekolah perlu waktu untuk mendata siswa, memastikan lokasi aman, dan mengatur penyerahan anak kepada orang tua. Hormati proses itu.
Sebelum bencana terjadi, tanyakan langsung ke sekolah: apakah ada prosedur evakuasi, di mana titik kumpul, bagaimana sistem pemberitahuan ke orang tua, dan siapa yang mendampingi anak saat evakuasi. Simpan nomor telepon sekolah, bukan hanya kontak WhatsApp guru.
Grup WhatsApp orang tua biasanya ramai begitu gempa terjadi. Saring dulu sebelum meneruskan pesan.
Bagikan hanya informasi yang sudah terverifikasi dari sumber resmi. Spam pesan dan kabar belum jelas asalnya bisa membuat orang tua lain makin panik.
Anak bisa masih syok setelah gempa. Minta ia menunggu di sekolah sampai kondisi aman dan jemputan tiba.
Jemputlah sendiri atau kirim anggota keluarga yang benar-benar dipercaya anak. Membiarkan anak pulang sendiri dalam situasi pascagempa bukan pilihan yang aman.
Cek apakah ada luka atau cedera. Setelah itu, beri ruang bagi anak untuk bercerita tanpa dipaksa.
Sebagian anak masih takut, cemas, atau sulit berpisah dari orang tua pascakejadian. Libatkan anak dalam proses pemulihan keluarga agar ia merasa aman kembali.
Badan penanggulangan bencana dalam dan luar negeri mengimbau setiap keluarga menyiapkan langkah berikut:
Bila anak menunjukkan tanda stres berkepanjangan, seperti sulit tidur, mimpi buruk berulang, atau menolak ke sekolah lebih dari beberapa pekan, pertimbangkan konsultasi dengan psikolog anak. Pendampingan profesional membantu anak memulihkan rasa amannya.
Gempa tidak bisa diprediksi, tetapi kesiapan keluarga bisa dibangun sejak sekarang. Mulai dari menyepakati rencana darurat, mengenal prosedur sekolah, hingga melatih simulasi bersama anak.