KALIMANTAN TIMUR — PT Pertamina Hulu Energi resmi mengakuisisi Participating Interest milik Eni di tiga Wilayah Kerja migas strategis Kalimantan Timur, yakni North Ganal, Rapak, dan East Sepinggan, dengan nilai transaksi yang tidak disebutkan. Lewat akuisisi ini, PHE menggenggam 10 persen PI di North Ganal dan Rapak, serta menambah porsi di East Sepinggan dari 15 persen menjadi 25 persen. Langkah tersebut memperkuat posisi Pertamina di salah satu pusat produksi gas dan pengembangan deepwater terpenting di Indonesia.
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan Eni telah menandatangani Sales and Purchase Agreement (SPA) pada Oktober 2026. Kesepakatan itu menjadi dasar pengalihan Participating Interest (PI) Eni di tiga Wilayah Kerja (WK) migas strategis Kalimantan Timur kepada anak usaha Pertamina tersebut.
Direktur Utama PHE Sunaryanto mengatakan akuisisi ini merupakan bagian dari strategi Pertamina untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Menurutnya, langkah tersebut juga meningkatkan cadangan dan produksi migas melalui pengembangan portofolio aset yang berkualitas dan memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.
Rincian Kepemilikan di Tiga Wilayah Kerja
PHE kini memegang 10 persen PI di WK North Ganal dan Rapak. Sementara di WK East Sepinggan, porsi PHE bertambah dari sebelumnya 15 persen menjadi 25 persen.
Ketiga wilayah kerja itu berada di salah satu kawasan migas strategis Indonesia yang infrastruktur hulu dan hilirnya telah terintegrasi. Kawasan tersebut juga dinilai memiliki potensi pengembangan sumber daya migas yang signifikan.
Sunaryanto menyebut keikutsertaan Pertamina sebagai National Oil & Gas Company (NOC) di aset-aset tersebut dapat mendorong secara langsung Proyek Kutei North Hub, yang mencakup WK North Ganal dan Rapak. Proyek itu merupakan Proyek Strategis Nasional yang terhubung ke infrastruktur eksisting Pertamina.
Sinergi dengan Aset Pertamina di Kalimantan Timur
Kehadiran Pertamina di ketiga wilayah kerja itu diharapkan membuka peluang sinergi dengan aset perusahaan yang telah beroperasi di Kalimantan Timur, termasuk PT Badak NGL.
"Akuisisi ini merupakan bagian dari strategi PHE untuk terus memperkuat portofolio hulu migas melalui investasi pada aset yang memiliki fundamental kuat, potensi sumber daya yang besar, serta memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan negara," ujar Sunaryanto.
Investasi ini juga dinilai strategis untuk mendukung optimalisasi pemanfaatan infrastruktur gas, LPG, dan LNG di Kalimantan Timur. Termasuk menjaga keberlanjutan rantai pasok gas domestik dan pemanfaatan fasilitas LNG nasional.
Target Produksi dan Rencana ke Depan
Selain menambah produksi dan cadangan, akuisisi tersebut membuka ruang bagi Pertamina untuk berpartisipasi lebih aktif dalam program pengembangan lapangan dan eksplorasi di kawasan tersebut. Potensi sumber daya yang masih dapat dikembangkan diharapkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan produksi PHE dalam jangka menengah dan panjang.
Langkah ini sejalan dengan strategi PHE menjalankan pertumbuhan organik maupun anorganik, melalui kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan eksisting serta akuisisi aset migas strategis. PHE menyatakan akan mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG), kehati-hatian investasi, serta penerapan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) dalam setiap kegiatan operasional dan investasi.
"Pertamina Hulu Energi akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas yang berkelanjutan sesuai prinsip Environmental, Social and Governance (ESG)," tandas Sunaryanto.
Dengan akuisisi ini, Pertamina menegaskan komitmennya berkontribusi pada pencapaian target produksi migas nasional sekaligus memastikan ketersediaan energi yang berkelanjutan bagi Indonesia.