BALIKPAPAN — Bahlil Lahadalia menegaskan hubungan Indonesia dengan perusahaan maupun negara asing harus dibangun di atas prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan saling menguntungkan. Pemerintah tidak ingin kerja sama energi hanya menguntungkan pihak asing sementara kepentingan nasional terabaikan. Pernyataan itu disampaikan di hadapan para pemangku kepentingan sektor energi dalam peresmian proyek Jangkrik North East 6 (JNE-6) dan Lapangan Maha-South Hub.
Menurut Bahlil, Indonesia tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai pemasok sumber daya alam yang dimanfaatkan saat dibutuhkan. Perusahaan luar negeri yang telah masuk, bekerja, dan berinvestasi di Indonesia, katanya, adalah saudara. Namun status mitra itu tidak berarti pihak asing bisa mengabaikan kepentingan Indonesia.
"Setiap perusahaan luar negeri yang telah masuk, bekerja dan melakukan investasi di luar negeri, itu artinya mereka adalah saudara kita," kata Bahlil.
Pemerintah, tegasnya, akan memastikan setiap persoalan diselesaikan dengan semangat kemitraan yang adil. Bahlil menekankan tidak boleh ada pihak yang untung sementara pihak lain rugi dalam kerja sama yang dijalin.
"Tidak boleh ada yang untung dan yang satu rugi. Inilah asas kebersamaan kita," ujarnya.
Pernyataan Bahlil semakin tajam ketika menyinggung negara-negara yang dinilai tidak kooperatif. Ia menegaskan pemerintah memiliki opsi mengevaluasi kontrak kerja sama energi jika hubungan yang terjalin tidak mencerminkan sikap saling menghargai. Evaluasi itu menyasar negara-negara yang tidak saling menghormati hubungan bilateral dengan Indonesia.
"Saya akan melakukan evaluasi kontrak dengan negara-negara lain yang tidak kooperatif, yang tidak saling menghargai antara umumnya sama negara," kata Bahlil.
Ia bahkan membuka kemungkinan tidak lagi memasok energi ke negara yang dianggap tidak menghormati Indonesia. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa kebijakan ekspor energi tidak semata-mata dilihat dari sisi perdagangan dan keuntungan ekonomi. Sikap negara mitra dalam membangun hubungan bilateral juga menjadi pertimbangan yang disoroti pemerintah.
"Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia," tegasnya.
Sebaliknya, Indonesia akan membuka peluang kerja sama bagi negara-negara yang menunjukkan penghormatan timbal balik. Bahlil menyebut negara yang saling menghargai dengan Indonesia bisa mendapat kontrak pasokan energi baru, meski sebelumnya belum memiliki perjanjian. Kebijakan itu disebutnya sebagai bentuk timbal balik atas sikap hormat negara mitra.
"Negara-negara yang menghargai Indonesia, yang kita saling menghargai, maka sekalipun mereka tidak punya kontrak, kita akan membuat kontrak dan kita akan kasih kepada mereka," ujarnya.
Bagi Bahlil, hubungan bilateral tidak boleh berjalan dengan pola transaksional sepihak. Negara mitra tidak seharusnya hanya datang saat membutuhkan pasokan, lalu mengabaikan semangat persaudaraan ketika muncul persoalan lain.
"Jangan di saat mereka butuh baru mereka datang untuk memohon. Di saat ada persoalan lain yang sesungguhnya itu mampu dibicarakan dengan baik-baik seperti saudara," katanya.
Di tengah peringatan kepada negara mitra, Bahlil menegaskan arah kebijakan energi nasional: memperkuat pasokan domestik sebelum menjadikan peningkatan produksi sebagai peluang ekspor. Indonesia berpeluang meningkatkan produksi gas hingga sekitar 3.000 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) pada 2028-2029. Tambahan produksi itu disebutnya sebagai modal penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
"Ketika di 2028, 2029 kita bisa mencapai 3.000 MMSCFD, ini 3.000 MMSCFD ini tidak sedikit," ujarnya.
Peningkatan produksi akan diarahkan untuk mendukung kebutuhan industri dan perekonomian dalam negeri. Pemerintah ingin memastikan ketersediaan energi bagi kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas. Bertambahnya produksi gas belum tentu berarti Indonesia langsung memperbesar ekspor.
"Ini salah satu yang kita dapatkan, maka akan kita prioritaskan sekali lagi untuk kebutuhan dalam negeri terkait dengan ketahanan energi kita," kata Bahlil.