Pencarian

Inflasi Terkendali Aktivitas Ekonomi Kalimantan Timur Tetap Stabil Awal 2026

Selasa, 03 Februari 2026 • 15:15:04 WIB
Inflasi Terkendali Aktivitas Ekonomi Kalimantan Timur Tetap Stabil Awal 2026

Samarinda — Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur menyatakan aktivitas ekonomi daerah pada Januari 2026 tetap berada dalam kondisi terjaga. Stabilitas tersebut tercermin dari laju inflasi yang masih terkendali, seiring kembali normalnya harga komoditas pangan setelah periode hari besar keagamaan dan Tahun Baru.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, menyampaikan bahwa penguatan pengendalian inflasi terus dilakukan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Upaya ini dijalankan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kaltim bersama TPID kabupaten dan kota.

Selama Januari 2026, TPID Kaltim secara konsisten mengintensifkan strategi pengendalian inflasi dengan pendekatan 4K, yaitu menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, melancarkan distribusi, serta memperkuat komunikasi yang efektif. Pada aspek keterjangkauan harga, TPID Kaltim telah melaksanakan 21 kegiatan berupa gerakan pangan murah, operasi pasar, dan aktivitas sejenis di berbagai daerah.

Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen, inflasi Kalimantan Timur pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,04 persen secara bulanan, lebih rendah dibandingkan inflasi Desember 2025 yang mencapai 0,71 persen. Kondisi ini mendorong inflasi tahunan berada di level 3,76 persen, sementara inflasi tahun berjalan tercatat 0,04 persen. Meski demikian, inflasi tahunan Kaltim masih berada di atas capaian nasional yang tercatat sebesar 3,55 persen.

Kenaikan inflasi pada Januari terutama dipengaruhi oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, seiring berlanjutnya kenaikan harga emas di awal tahun. Rata-rata harga emas tercatat mencapai Rp2.860.000 per gram atau meningkat sekitar 12 persen dibandingkan Desember 2025, sehingga kelompok ini mengalami inflasi bulanan sebesar 3,17 persen dengan andil 0,23 persen.

Selain itu, tekanan inflasi juga berasal dari kelompok pakaian dan alas kaki serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Peningkatan permintaan pakaian serta penyesuaian tarif air minum akibat kenaikan biaya operasional turut memengaruhi perkembangan harga.

Namun, tekanan inflasi yang lebih tinggi berhasil diredam oleh penurunan harga pada kelompok bahan makanan dan transportasi. Penurunan harga pangan didukung oleh panen raya di sejumlah sentra produksi, termasuk cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah di wilayah Jawa dan Sulawesi. Di sisi transportasi, normalisasi tarif angkutan udara setelah periode Natal dan Tahun Baru, serta penurunan harga BBM nonsubsidi sekitar 3 hingga 4 persen pada awal Januari, turut menahan laju inflasi.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks