BALIKPAPAN — Langkah Askot PSSI Balikpapan menggelar kursus lisensi D bukan sekadar rutinitas tahunan. Kehadiran dua pemain aktif dari kasta tertinggi dan kedua Liga Indonesia menjadi sinyal bahwa regenerasi pelatih di Kalimantan Timur mulai mendapat perhatian serius dari para pesepakbola profesional.
Dua Pemain Profesional Ikut Ambil Lisensi Kepelatihan
Dari 30 peserta yang terdaftar, dua nama menonjol karena masih berstatus pemain aktif. Mereka adalah penggawa PSIS Semarang yang berlaga di Liga 1 dan pemain Persiba Balikpapan yang musim ini berlaga di Liga 2.
Fenomena ini jarang terjadi di kursus lisensi D level daerah. Biasanya, peserta didominasi oleh guru olahraga, pelatih sekolah sepak bola (SSB), atau mantan pemain yang sudah pensiun. Keputusan dua pemain aktif untuk mengikuti kursus ini menunjukkan kesadaran bahwa masa depan sepak bola tidak hanya di atas lapangan.
Kenapa Pemain Aktif Butuh Lisensi Pelatih Sejak Dini?
Lisensi D merupakan jenjang paling dasar dalam struktur kepelatihan PSSI. Meski levelnya dasar, materi yang diberikan mencakup fundamental teknik melatih, periodisasi latihan, hingga psikologi pemain usia muda.
Bagi pemain aktif, memiliki lisensi kepelatihan sejak sekarang memberi keuntungan jangka panjang. Mereka tidak harus menunggu pensiun untuk mulai belajar menjadi pelatih. Proses transisi dari pemain ke pelatih bisa lebih mulus karena pondasi sudah dibangun lebih awal.
Di Eropa, praktik ini sudah lazim. Banyak pemain yang mulai mengambil kursus kepelatihan di sela-sela karier bermain mereka. Indonesia mulai mengadopsi pola serupa, dan Balikpapan menjadi salah satu contohnya.
Kursus Lisensi D: Gerbang Awal Menuju Ekosistem Sepak Bola yang Lebih Profesional
Askot PSSI Balikpapan sebagai penyelenggara menargetkan peserta tidak hanya mendapat sertifikat, tetapi benar-benar memahami bagaimana membina pemain usia dini. Sebab, lisensi D adalah syarat minimal untuk melatih di kelompok usia muda dan SSB.
Dengan hadirnya pemain dari PSIS dan Persiba, diharapkan terjadi transfer pengalaman langsung dari praktisi lapangan ke calon pelatih lain. Interaksi semacam ini sulit didapatkan jika kursus hanya diisi oleh pemateri tanpa ada peserta yang masih aktif bermain di level kompetitif.
Ini juga menjadi kabar baik bagi pembinaan sepak bola di Kalimantan Timur. Semakin banyak pelatih bersertifikat, semakin besar peluang munculnya bibit-bibit pemain berkualitas dari daerah.
Apa Langkah Selanjutnya bagi Peserta?
Setelah menyelesaikan lisensi D, peserta bisa melanjutkan ke jenjang lisensi C, B, A, hingga lisensi Pro. Setiap jenjang memiliki masa berlaku dan persyaratan jam terbang melatih yang harus dipenuhi.
Bagi dua pemain aktif yang ikut serta, lisensi D ini bisa menjadi batu loncatan sebelum mereka benar-benar gantung sepatu. Karier sebagai pemain memang terbatas usia, tapi karier sebagai pelatih bisa berjalan jauh lebih panjang.