KALIMANTAN TIMUR — Rapat yang digelar di Jakarta itu membahas peta jalan pembiayaan perbankan BUMN ke depan. Dony menekankan bahwa kinerja positif Himbara selama ini harus diterjemahkan ke dalam kontribusi yang lebih nyata. "Perbankan BUMN memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dukungan pembiayaan harus terus diarahkan kepada sektor-sektor produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja," ujarnya dalam keterangan resmi, kemarin.
Lima Sektor Prioritas yang Jadi Sasaran Kredit
Dalam rapat tersebut, BP BUMN memetakan lima sektor utama yang akan menjadi prioritas penyaluran kredit bank Himbara. Pertama, industri manufaktur yang dinilai mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Kedua, program hilirisasi sumber daya alam yang menjadi andalan pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Selain itu, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor-sektor lain yang memiliki multiplier effect tinggi juga masuk dalam daftar. Langkah ini sekaligus menjawab kebutuhan likuiditas bagi proyek-proyek strategis nasional yang kerap terkendala pendanaan.
Bukan Cuma Kinerja, Tata Kelola Jadi Sorotan
Pertemuan ini tidak hanya meninjau angka-angka kinerja keuangan. Dony juga menyoroti penguatan tata kelola dan manajemen risiko di tengah dinamika ekonomi global yang masih tidak menentu. Menurut dia, daya tahan perbankan BUMN harus dijaga agar tidak goyah saat terjadi gejolak eksternal.
"Sinergi yang kuat antara pemegang saham, dewan komisaris, dan manajemen diharapkan dapat memperkuat fungsi intermediasi perbankan," tambah Dony. Ia menegaskan, BP BUMN bersama Danantara berkomitmen memastikan perbankan BUMN tumbuh secara sehat, profesional, dan berkelanjutan.
Yang Berubah: Dari Stabilitas ke Agresivitas
Yang menarik dari pertemuan ini adalah perubahan penekanan. Jika sebelumnya bank BUMN lebih sering diingatkan untuk menjaga rasio kredit macet (NPL) dan likuiditas, kali ini pesannya lebih ofensif. Bank-bank Himbara diminta aktif mendorong pembiayaan produktif dan inklusif yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah.
Artinya, perbankan pelat merah tidak boleh hanya menjadi "bemper" stabilitas, tetapi juga harus menjadi motor penggerak ekonomi. Dengan aset gabungan yang mencapai ribuan triliun rupiah, tekanan untuk menyalurkan kredit ke sektor riil pun semakin besar. Apalagi, target pertumbuhan ekonomi nasional membutuhkan suntikan modal dari sektor perbankan secara masif.
Ke depan, publik akan melihat apakah arahan ini benar-benar dieksekusi oleh masing-masing direksi bank Himbara. Sebab, tantangan terbesarnya bukan pada niat, melainkan pada kemampuan menyalurkan kredit tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian perbankan.