KALIMANTAN TIMUR — Data terbaru dari China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan pergeseran besar strategi produksi Tesla di China. Selama Januari–Juni 2026, penjualan ritel domestik hanya mencapai 238.955 unit, turun 9 persen dibanding periode sama tahun lalu yang mencatat 263.410 unit. Bandingkan dengan rekor semester I 2023 yang menembus 294.105 unit—kini angkanya jomplang jauh ke bawah.
Sebaliknya, ekspor dari Giga Shanghai justru meroket. Tesla mengirim 228.994 kendaraan ke luar China pada paruh pertama tahun ini, naik drastis dari 101.064 unit pada 2025. Eropa, Kanada, dan sejumlah pasar Asia menjadi tujuan utama kiriman tersebut.
Angka Grosir Menutupi Masalah Besar di Pasar Domestik
Setiap bulan, Tesla dan sebagian besar media keuangan mengutip angka "wholesale" atau grosir—total seluruh kendaraan yang keluar dari pabrik Shanghai, baik untuk pasar lokal maupun ekspor. Atas dasar itu, produksi semester I mencapai 467.949 unit, naik 28 persen secara tahunan dan hanya kurang 2 persen dari rekor 2023. Terdengar mengesankan.
Masalahnya, angka grosir adalah penjumlahan ritel ditambah ekspor. Jika komponen ekspor dipisahkan, gambaran sesungguhnya justru suram: penjualan ke konsumen China menyusut. Pola ini sudah terlihat sejak April lalu, ketika laporan "lonjakan 36 persen" yang santer diberitakan ternyata menyembunyikan penurunan ritel 10 persen setelah ekspor dikeluarkan dari perhitungan. Kuartal I juga mencatat ritel turun 16 persen di balik headline grosir yang "menguat". Data semester I kini mengonfirmasi bahwa ini bukan sekadar anomali sesaat.
Saat ini, ekspor menguasai 49 persen dari total produksi Giga Shanghai, melonjak dari porsi 28 persen setahun lalu. Hampir separuh output pabrik tidak lagi melayani pasar yang menjadi alasan pabrik itu dibangun. Tren ini diprediksi semakin deras—CPCA melaporkan rekor grosir 93.000 kendaraan pada Juli, dan mayoritas besar diperkirakan akan dikapalkan ke luar negeri.
Persaingan Domestik yang Sengit dan Strategi Baru Giga Shanghai
Merosotnya penjualan di dalam negeri bukan misteri. Tesla tengah terhimpit kompetisi ketat dari pabrikan China seperti BYD, Xiaomi, dan Nio yang terus meluncurkan EV lebih murah, lebih baru, dan lebih lengkap fiturnya. Sementara Model 3 dan Model Y—dua model andalan yang usianya sudah hampir satu dekade—kian tertinggal. Tahun 2025 menjadi tahun pertama dalam sejarah Tesla di China dengan penurunan penjualan tahunan.
Ledakan ekspor sebagian memang berasal dari basis rendah. Pada Februari dan Maret 2025, Tesla nyaris tidak mengekspor apa pun karena pergantian model Model Y yang disegarkan, sehingga bulan-bulan itu menunjukkan pertumbuhan tahunan di atas 400 persen. Namun meski dibandingkan dengan bulan-bulan normal sekalipun, arahnya jelas: Giga Shanghai telah berubah haluan dari melayani China menjadi memasok dunia.
Kaitan dengan Rencana Merger SpaceX
Waktu pergeseran ini cukup krusial. The Wall Street Journal pekan lalu melaporkan bahwa Tesla sedang mempertimbangkan opsi untuk bisnisnya di China—mulai dari pemisahan, penjualan penuh, hingga penutupan—guna membuka jalan bagi potensi merger dengan SpaceX. SpaceX adalah kontraktor pertahanan dan antariksa utama AS; menggabungkan manufaktur Tesla di China ke dalam entitas tersebut akan memicu alarm keamanan nasional di Washington. Elon Musk menyebut laporan itu "berita bohong".
Terlepas dari status kebenaran laporan tersebut, data ini mengubah perhitungan biaya jika Tesla benar-benar melepas bisnis China-nya. Jika Giga Shanghai diam-diam telah berubah menjadi hub ekspor yang memasok Eropa, Kanada, dan Asia, maka pemisahan tidak sekadar menyerahkan pasar domestik yang menyusut. Itu berarti melepas hampir setengah juta unit produksi paling efisien per tahun, plus jalur pasokan yang menjaga showroom tetap terisi di tiga benua.
Komunitas pengamat pun menyoroti ironi ini. Saat Musk pertama kali mengumumkan pendirian pabrik Shanghai, ia menegaskan pabrik tersebut hanya akan memproduksi mobil untuk pasar domestik China. Kenyataannya kini, Tesla berpotensi mengekspor lebih banyak kendaraan dari China dibanding yang dijual di negara itu sendiri. Keputusan strategis yang diambil dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan apakah pabrik terbesar Tesla itu tetap menjadi tulang punggung produksi global—atau justru menjadi titik lemah dalam rencana besar merger di masa depan.