KALIMANTAN TIMUR — Dalam kunjungan kerjanya ke NTT, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mendapatkan dokumen sejarah yang menempatkan Atambua sebagai simpul penghubung antara Eropa dan Australia di awal industri penerbangan global. Dokumentasi itu diserahkan langsung oleh Wali Kota Darwin, Peter Styles, di Bandar Udara AA Bere Tallo.
Menurut Tito, Atambua menjadi pemberhentian terakhir sebelum pesawat tiba di Darwin dalam rute Great Air Race 1919. Perlombaan udara jarak jauh itu menempuh rute dari London menuju Australia dengan beberapa titik transit di sepanjang perjalanan.
Empat Titik Transit di Indonesia
Dalam catatan sejarah yang diterima Tito, wilayah Indonesia kala itu menjadi jalur penting dengan empat titik persinggahan. "Selain singgah di Jakarta, pesawat juga singgah di Atambua," ujar Tito dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.
Mantan Kapolri itu menjelaskan, pesawat pertama kali ditemukan Wright Bersaudara asal Amerika Serikat pada 1903. Hanya 16 tahun berselang, tepatnya 1919, rute penerbangan antarbenua yang menghubungkan London dan Darwin sudah terwujud. "Atambua sudah menjadi titik transit untuk penerbangan pertama, setelah industri penerbangan pesawat ditemukan pada tahun 1903," katanya.
Hubungan Historis Atambua-Darwin
Tito menilai fakta ini menjadi penguat hubungan bilateral Indonesia dan Australia, khususnya antara Atambua dan Darwin. Ia menekankan bahwa hubungan kedua wilayah telah terjalin sejak awal perkembangan penerbangan modern, sehingga layak terus dipelihara dan diperkuat.
"Sejarah sudah memberi tahu kita bahwa Atambua adalah tempat yang monumental dan bersejarah untuk perjalanan ini," ujar Tito.
Mendagri juga mengapresiasi perhatian Pemerintah Kota Darwin terhadap catatan sejarah ini. "Terima kasih banyak kepada Wali Kota Darwin, masih mengingat dan menghafal perjalanan bersejarah ini, bahwa Atambua juga dimasukkan dalam sejarah Darwin, karena perjalanan tersebut," kata Tito.
Bandara AA Bere Tallo sebagai Simbol
Penyerahan dokumentasi itu dilakukan di Bandar Udara AA Bere Tallo, yang menjadi lokasi strategis di perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Keberadaan bandara ini dinilai sebagai infrastruktur yang menyimpan memori panjang hubungan udara antarbenua.
Meski belum ada rencana konkret untuk menjadikan Atambua sebagai destinasi wisata sejarah penerbangan, Tito mengisyaratkan potensi tersebut. "Ini modal sejarah yang sangat kuat untuk mempererat hubungan masyarakat di kedua wilayah," pungkasnya.