Pencarian

Limbah Organik Kafetaria PHM di Muara Pantuan Kini Jadi Pakan Bebek, Produksi Telur Capai 100 Butir Per Hari

Rabu, 29 Juli 2026 • 15:45:01 WIB
Limbah Organik Kafetaria PHM di Muara Pantuan Kini Jadi Pakan Bebek, Produksi Telur Capai 100 Butir Per Hari
Limbah organik dari kafetaria Pertamina Hulu Mahakam (PHM) diolah menjadi pakan bebek di Desa Muara Pantuan, Kutai Kartanegara.

KUTAI KARTANEGARA — Inisiatif pengelolaan sampah organik di Pulau Nubi, Desa Muara Pantuan, tak hanya menyelesaikan masalah lingkungan. Program kolaborasi antara Pertamina Hulu Mahakam (PHM) dan warga setempat ini justru melahirkan usaha peternakan bebek yang mulai menunjukkan hasil nyata.

Dari Sisa Makanan Kafetaria Jadi Pakan Ternak

Ide pemanfaatan limbah berawal dari kajian tim Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) PHM mengenai sampah sisa makanan di kafetaria perusahaan. Hampir bersamaan, warga Desa Muara Pantuan mengajukan permohonan bantuan pakan ternak bebek pada Juni 2025.

Alih-alih sekadar memberi bantuan, PHM melihat celah untuk menekan timbunan sampah sekaligus memberdayakan ekonomi. Limbah organik kafetaria kemudian diolah menjadi pakan utama bebek petelur dan pedaging milik warga.

Pembibitan tahap pertama melibatkan 300 ekor bebek pada September 2025. Begitu memasuki usia lima bulan, peternak kembali menambah 300 ekor bibit bebek petelur. Lonjakan populasi ternak ini mendorong PHM memasok sampah organik secara penuh sejak April 2026.

Produksi Telur Tembus Ratusan Butir Per Hari

Hasilnya mulai terlihat sejak Februari 2026. Produksi telur bebek di peternakan warga mencapai 60 hingga 90 butir per hari. Pada momen tertentu, angka itu bahkan bisa menembus lebih dari 100 butir per hari.

Kepala Lapangan SPU Teddy Indrawan menyebut program ini memberi dampak ganda.

“Program ini memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7/2026).

Sebelum program berjalan, PHM harus mengangkut sampah organik kafetaria ke fasilitas pengelolaan limbah yang berjarak sekitar 30 kilometer. Kini, rutinitas itu berkurang drastis, sekaligus menekan risiko keselamatan dalam operasional harian.

PHM: Wujudkan Ekonomi Sirkular dan ESG di Wilayah Hulu Migas

General Manager PHM Setyo Sapto Edi menilai inisiatif ini sebagai implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Ia berharap kolaborasi serupa bisa melahirkan lebih banyak program yang berdampak langsung ke masyarakat.

“Sejalan dengan semangat ESG, kami akan terus mendorong program-program yang menciptakan nilai bersama atau creating shared value bagi seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya saat melakukan Management Walk Through (MWT) ke lokasi peternakan bebek di Muara Pantuan.

Head of Communication Relations & CID PHM Achmad Krisna Hadiyanto menambahkan, program yang awalnya fokus pada pengurangan limbah kini berkembang menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat.

“Ke depan, kami akan terus mendorong program kolaboratif yang dapat dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Bagikan
Sumber: narasinegeri.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks