Pencarian

Pemkab Kutim Genjot Hilirisasi Batu Bara Jadi Metanol, Kakao Fermentasi Tembus Kontrak Rutin ke Bandung

Rabu, 19 Agustus 2026 • 18:31:01 WIB
Pemkab Kutim Genjot Hilirisasi Batu Bara Jadi Metanol, Kakao Fermentasi Tembus Kontrak Rutin ke Bandung
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi meninjau kesiapan lahan proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol di Kecamatan Bengalon.

SANGATTA — Kabupaten Kutai Timur di Kalimantan Timur tengah mengubah haluan ekonomi. Ketergantungan pada penjualan batu bara mentah perlahan ditinggalkan, digantikan dengan pembangunan industri turunan yang nilainya jauh lebih tinggi.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi mengungkapkan bahwa misi pembangunan daerah kini bertumpu pada hilirisasi. Sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan, hingga pariwisata menjadi prioritas untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan angka kemiskinan.

Lahan Proyek Metanol di Bengalon Sudah Disiapkan

Untuk sektor pertambangan, Pemkab Kutim telah menyiapkan lahan di Kecamatan Bengalon. Lokasi tersebut akan menjadi basis proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol.

Metanol sendiri merupakan bahan baku penting bagi berbagai industri. Mulai dari pembuatan resin, campuran LPG, serat sintetis, cat, plastik, hingga pelarut obat-obatan dan campuran parfum.

Perubahan kebijakan pemerintah pusat yang mendorong hilirisasi disebut menjadi pendorong utama. Investasi daerah kini diarahkan pada pengolahan batu bara menjadi produk turunan, sejalan dengan target transisi energi nasional.

Dampak Ekonomi Berantai bagi Daerah Tambang

Bagi daerah yang selama ini bergantung pada tambang seperti Kutim, hilirisasi dimaknai lebih dari sekadar pembangunan pabrik. Mahyunadi menilai ini merupakan perubahan besar dalam pengembangan ekonomi lokal.

Industri turunan diproyeksikan menciptakan mata rantai ekonomi baru yang lebih panjang dibanding penjualan batu bara mentah. Efek bergandanya diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi kemiskinan di wilayah tersebut.

Pisang Kepok dan Kakao Fermentasi Tembus Pasar Global

Hilirisasi tak hanya berhenti di sektor tambang. Di bidang pertanian, komoditas pisang kepok asal Kutim sudah menembus pasar ekspor, baik dalam bentuk buah segar maupun olahan keripik yang diproduksi industri kecil dan menengah (IKM). Produk olahan tersebut telah dipasarkan hingga ke Asia dan Eropa.

Kabar baik juga datang dari komoditas kakao. Berkat pembinaan yang intensif, petani tidak lagi menjual biji kering, melainkan sudah mengolahnya menjadi kakao fermentasi yang nilai jualnya jauh lebih tinggi.

Kontrak Rutin 25-30 Ton Kakao ke Bandung

Upaya tersebut membuahkan hasil nyata. Kutim kini memegang kontrak pengiriman kakao fermentasi ke PT Rasantara Cipta Pangan di Bandung, Jawa Barat.

Pengiriman dilakukan secara rutin setiap bulan dengan volume antara 25 hingga 30 ton. Biji kakao fermentasi tersebut berasal dari Kecamatan Karangan.

Mahyunadi menegaskan bahwa hilirisasi harus terus dikejar di semua sektor. Pariwisata juga menjadi perhatian karena dinilai sebagai ekonomi berkelanjutan dengan dampak yang sangat luas bagi masyarakat. "Hilirisasi harus terus dikejar agar perekonomian di Kutim tidak selalu bergantung pada komoditas mentah," katanya.

Follow faktasamarinda.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kaltim.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks