KALIMANTAN TIMUR — Setiap anak memiliki dunia perasaan yang kompleks, Bunda. Sayangnya, tidak semua perasaan itu mudah diucapkan dengan kata-kata. Alih-alih bercerita, anak sering kali memilih diam, mengamuk, atau justru menarik diri ketika merasakan sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Memvalidasi emosi anak adalah kunci untuk membangun kepercayaan dirinya. Ketika Bunda membantu si kecil menyebutkan apa yang ia rasakan, secara tidak langsung Bunda mengajarkan bahwa semua perasaan itu normal dan sifatnya sementara. Berikut empat emosi yang paling sering sulit diungkapkan anak dan cara tepat untuk menyikapinya.
1. Kemarahan yang Meledak-ledak
Kemarahan pada anak sering kali muncul saat keinginannya tidak terpenuhi, misalnya ketika mainannya direbut teman. Karena belum bisa mengatur emosi, responsnya bisa berupa pukulan, teriakan, atau tantrum di tempat umum.
Psikolog klinis berlisensi dari Long Island, New York, Jaclyn Shlisky, PsyD, menjelaskan bahwa kemarahan adalah reaksi alami anak terhadap sesuatu yang dirasa tidak adil. Alih-alih langsung menghukum, Bunda bisa membantunya dengan tiga cara berikut.
Pertama, identifikasi perasaan si kecil dengan berkata, "Sepertinya kamu benar-benar marah," sambil menirukan ekspresi wajah marah. Gunakan kata "sepertinya" atau "tampaknya" agar anak merasa dipahami, bukan dihakimi. Kedua, ajak ia berlatih mengucapkan kalimat seperti, "Aku tidak suka kalau mainanku diambil!" Ketiga, tunjukkan emosi marah pada orang lain di sekitarnya sebagai contoh nyata—ini sekaligus mengajarkan empati.
2. Kesedihan yang Tak Tersampaikan
Kesedihan pada anak biasanya dipicu oleh kekecewaan, rasa kehilangan, atau perasaan dikucilkan. Sayangnya, banyak anak tidak tahu bagaimana menyampaikan rasa sedihnya dengan tepat, sehingga ia justru menekan perasaan tersebut.
Bunda, jangan buru-buru mengalihkan perhatian anak ketika ia menangis karena kehilangan boneka kesayangannya. Duduklah di sampingnya, berikan pelukan hangat, dan biarkan ia meluapkan kesedihannya hingga reda. Anak perlu belajar bahwa perasaan sedih bukanlah sesuatu yang memalukan atau harus disembunyikan.
Jika si kecil belum mampu berkata-kata, bantu ia menunjuk ekspresi yang sesuai melalui emoji atau gambar. Cara ini jauh lebih efektif daripada memaksanya "mengungkapkan perasaan" saat ia belum siap secara emosional.
3. Ketakutan yang Tersembunyi di Balik Kecemasan
Rasa takut pada anak bisa muncul dari kecemasan akan hal-hal yang belum ia pahami, seperti takut gelap, takut berpisah dengan orang tua, atau takut bertemu orang asing. Ini adalah bagian normal dari tumbuh kembang anak, namun sering kali sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Ketika anak menunjukkan ketakutan, hindari meremehkannya dengan kalimat seperti "Ah, tidak perlu takut!" Sebaliknya, akui perasaannya terlebih dahulu. Bunda bisa berkata, "Ibu lihat kamu terlihat cemas. Mau cerita apa yang membuatmu takut?" Dengan begitu, anak merasa aman untuk membuka diri.
4. Perasaan Kecewa yang Sulit Diterima
Kekecewaan adalah emosi yang rumit bagi anak-anak. Mereka kesulitan mengatur perasaan ini ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, misalnya saat rencana liburan batal atau tidak mendapat mainan yang diinginkan di toko.
Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk merasakan kekecewaan itu sejenak. Biarkan ia mengungkapkan kekesalannya tanpa langsung menawarkan solusi atau ganti rugi. Setelah emosinya mereda, ajak ia berdiskusi tentang cara menghadapi kekecewaan di kemudian hari.
Kapan Bunda Perlu Lebih Waspada?
Meskipun kesulitan mengungkapkan emosi adalah hal yang umum, Bunda perlu waspada jika si kecil menunjukkan perubahan perilaku yang drastis. Misalnya, ia menjadi sangat pendiam dalam waktu lama, sering mengamuk berlebihan, atau menarik diri dari interaksi sosial.
Jika tanda-tanda tersebut berlangsung lebih dari beberapa minggu dan mengganggu aktivitas sehari-harinya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog anak. Penanganan dini akan membantu si kecil tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional.
Membantu anak mengenali emosinya memang butuh kesabaran ekstra, Bunda. Namun, setiap kali Bunda meluangkan waktu untuk duduk dan mendengarkan, si kecil belajar bahwa perasaannya berharga. Itulah fondasi terbaik untuk kecerdasan emosionalnya di masa depan.