KALIMANTAN TIMUR — Jetour T2 i-DM resmi menyapa Medan dengan banderol Rp700 juta on the road, mengandalkan klaim jarak tempuh lebih dari 1.200 km dari kombinasi baterai dan tangki bensin. Tapi dari angka itu, hanya 90 km yang murni ditempuh dengan listrik — porsi elektrifikasi yang perlu dicermati calon pembeli SUV PHEV di Sumatera Utara. Pertanyaannya: cukupkah 90 km untuk menyebut mobil ini benar-benar "elektrifikasi"?
PT Jetour Sales Indonesia memperkenalkan SUV bertenaga plug-in hybrid itu di Atrium Centre Point Mall Medan, Sumatera Utara, Senin (19/10/2026). Mobil ini dibanderol Rp700 juta on the road Medan dan diposisikan sebagai "Adventure PHEV SUV" yang memadukan karakter tangguh dengan teknologi elektrifikasi.
Kenapa Medan Jadi Titik Awal Jetour T2 i-DM
Medan dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Jetour, infrastruktur kendaraan listrik di Sumatera Utara terus berkembang, dan Medan dianggap pintu masuk untuk menjelajahi berbagai destinasi di provinsi itu.
Regional Sales Manager PT Jetour Sales Indonesia Andrew Iskandar menilai Medan merupakan pasar penting untuk menjangkau lebih banyak konsumen di Sumatera Utara.
"Melalui JETOUR T2 i-DM, kami ingin menghadirkan pilihan Adventure PHEV SUV yang memadukan karakter tangguh dan teknologi elektrifikasi," ujar Andrew.
Angka 1.200 km vs 90 km: Apa Artinya Buat Pemakaian Harian
Dengan baterai dan tangki terisi penuh, Jetour T2 i-DM diklaim sanggup menempuh lebih dari 1.200 km. Namun hanya 90 km di antaranya yang murni ditempuh dengan listrik.
Bagi pemakaian dalam kota, angka 90 km masih masuk akal untuk mobilitas harian jarak pendek — pulang-pergi kantor, antar anak sekolah, atau belanja akhir pekan. Selama rutin di-charge, sebagian besar perjalanan harian bisa murni listrik.
Masalahnya muncul saat perjalanan lintas kota. Begitu baterai habis, T2 i-DM sepenuhnya bergantung pada mesin bensin. Di titik itu, konsumsi bahan bakar aktual jadi penentu apakah klaim 1.200 km benar-benar realistis atau hanya angka di brosur.
Posisi PHEV sebagai Jalan Tengah
Jetour memposisikan T2 i-DM sebagai kompromi antara mobil bensin konvensional dan EV murni. PHEV memang dirancang untuk mobilitas harian dalam kota sekaligus perjalanan lintas kota tanpa kecemasan kehabisan daya.
Namun Rp700 juta on the road Medan menempatkan T2 i-DM di segmen yang tidak murah. Calon pembeli di kelas ini biasanya membandingkan langsung dengan SUV PHEV lain maupun EV murni di rentang harga serupa, terutama soal biaya operasional harian dan kemudahan pengisian daya.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memutuskan
- Porsi listrik terbatas: 90 km dari total 1.200 km berarti mayoritas perjalanan jauh tetap mengandalkan bensin.
- Ketergantungan infrastruktur charging: manfaat PHEV baru terasa maksimal jika rutin di-charge, dan itu bergantung pada ketersediaan fasilitas pengisian di sekitar rumah.
- Harga premium: Rp700 juta on the road Medan menuntut pembeli memastikan fitur dan kualitas benar-benar sepadan.
- Data konsumsi BBM aktual belum tersedia: klaim 1.200 km perlu dibuktikan lewat pengujian independen, bukan sekadar angka pabrikan.
Siapa yang Cocok, Siapa yang Sebaiknya Menunggu
Jetour T2 i-DM masuk akal untuk pengguna di kota dengan akses charging rumahan yang rutin melakukan perjalanan dalam kota, sesekali keluar kota. Untuk pemakaian seperti itu, 90 km mode listrik sudah menutup sebagian besar kebutuhan harian.
Sebaliknya, pembeli yang jarang mengisi daya atau sering menempuh rute jauh sebaiknya menimbang ulang. Tanpa kebiasaan charging, T2 i-DM praktis berjalan sebagai SUV bensin dengan bobot baterai tambahan — dan di situ nilai jual PHEV menyusut.
Pengujian berkendara langsung di Medan dan sekitarnya akan jadi pembuktian pertama seberapa jauh klaim 1.200 km itu bertahan di kondisi jalan sebenarnya.