KALIMANTAN TIMUR — Switzerland Tourism mempromosikan pengalaman musim dingin yang lebih luas dari sekadar ski, mencakup wisata kota, museum, dan festival budaya. Dalam Annual Media Briefing 2026 bertema "Beyond the Snow: A Swiss Winter for the Senses" di Jakarta, Rabu (4/11/2026), wisatawan Indonesia diajak melihat keragaman geografis dan budaya Swiss.
Duta Besar-designate Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Konstantin Obolensky, menyampaikan bahwa negaranya memiliki lanskap yang jauh lebih beragam daripada yang sering dibayangkan wisatawan. Sebagian besar wilayah Swiss memang berupa pegunungan, tetapi mayoritas penduduk justru tinggal di kawasan yang lebih datar.
Kondisi geografis itu membuka peluang bagi wisatawan untuk merangkai beberapa pengalaman dalam satu perjalanan. Ukuran negara yang relatif kecil membuat perpindahan antarkota, museum, dan kawasan bersalju bisa ditempuh dalam waktu singkat.
Kota dan Museum dalam Satu Rute
Obolensky menekankan bahwa Swiss memiliki ratusan museum dengan koleksi yang beragam, mulai dari seni hingga sejarah. Karena jarak antardestinasi tidak terlalu jauh, traveler bisa mengunjungi kota sekaligus mengeksplorasi museum sesuai minat.
"Karena negaranya tidak terlalu besar, Anda dapat menggabungkan berbagai hal, dapat mengunjungi kota, pergi ke museum-museum hebat dari berbagai selera. Kami memiliki ratusan museum di Swiss dan yang sangat bagus," ujarnya kepada Suara.com di El Profesor Steakhouse, Urban Forest Cipete, Jakarta.
Festival Budaya Jadi Alternatif Musim Dingin
Selain museum, wisata budaya bisa diisi dengan menyaksikan festival lokal. Karnaval Basel disebut sebagai salah satu pilihan yang bisa masuk dalam itinerary musim dingin.
"Atau Anda dapat pergi ke festival, festival seperti Karnaval Basel atau karnaval lain yang telah saya sebutkan sebelumnya," tutur Obolensky.
Festival semacam ini memberi pengalaman yang berbeda dari wisata alam, terutama bagi keluarga yang ingin menyeimbangkan aktivitas luar ruang dengan acara budaya.
Aktivitas Salju Selain Ski
Bagi yang tidak berminat menuruni lereng ski, Swiss tetap menyediakan beragam aktivitas salju. Obolensky menyebut seluncur salju (toboggan), ski lintas alam (cross-country skiing), hingga sekadar berjalan kaki menikmati udara dingin sebagai opsi yang ramah untuk berbagai tingkat kemampuan.
"Dan tetap saja, satu atau dua hari kemudian Anda dapat menikmati waktu Anda di salju, atau mungkin bermain ski, atau menaiki seluncuran salju (toboggan), atau ski lintas alam (cross-country skiing), atau sekadar mendaki, berjalan-jalan di salju dan menikmati udara segar yang dingin," pungkasnya.
Tips Merencanakan Perjalanan Musim Dingin
Kombinasi kota, museum, festival, dan aktivitas salju sebaiknya disusun berdasarkan durasi liburan. Untuk perjalanan keluarga, dua hingga tiga hari di kawasan pegunungan ditambah kunjungan kota bisa menjadi kerangka awal yang seimbang.
Perlengkapan tahan dingin seperti jaket berlapis, sarung tangan, dan alas kaki anti-selip perlu disiapkan sejak awal. Informasi tarif tiket museum, jadwal festival, dan paket transportasi antarwilayah sebaiknya dikonfirmasi melalui Switzerland Tourism atau agen perjalanan resmi sebelum berangkat.
Swiss menempatkan musim dingin sebagai pengalaman yang bisa dinikmati tanpa harus mahir bermain ski. Perpaduan kota, museum, festival, dan lanskap bersalju membuat destinasi ini layak masuk daftar pertimbangan bagi traveler Indonesia yang mencari liburan dengan ritme lebih tenang.