SANGATTA — PT Palma Serasih Tbk (PSGO) melalui keterbukaan informasi menyampaikan bahwa pemeriksaan dan inventarisasi fasilitas serta aset terdampak kebakaran masih berlangsung. Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Astrida Niovita Bachtiar menyebut identifikasi awal mengarah pada area stasiun sterilizer PKS NUSA di Kalimantan Timur.
Manajemen belum bisa menyimpulkan apakah insiden berkaitan dengan faktor teknis, operasional, maupun keselamatan kerja. Kesimpulan itu baru akan diambil setelah surat tanggapan diterbitkan pada 22 Oktober 2026 dan hasil koordinasi dengan tenaga ahli eksternal rampung.
Stasiun sterilizer merupakan bagian awal pengolahan tandan buah segar sebelum masuk ke proses perebusan dan pengepresan. Gangguan di area ini otomatis menghentikan alur produksi CPO meski kebun tetap memanen.
PKS NUSA sendiri dirancang mengolah 90 ton TBS per jam. PSGO belum mengungkap persentase kapasitas produksi yang terdampak maupun estimasi waktu agar pabrik kembali normal.
"Pemulihan akan bergantung pada hasil pemeriksaan fasilitas, kebutuhan perbaikan, serta kesiapan teknis dan operasional. Perusahaan akan mengupayakan pemulihan secara efektif dan terukur dengan tetap mengutamakan keselamatan kerja," kata Astrida dalam keterangan resmi yang dikutip Sabtu (24/10/2026).
Gangguan operasional ini berbobot besar bagi kinerja keuangan perseroan. Berdasarkan rata-rata 12 bulan terakhir, NUSA menyumbang sekitar 30 persen pendapatan konsolidasian dan 32 persen produksi CPO.
Kontribusi lainnya mencakup 31 persen produksi TBS inti, 27 persen EBITDA, dan 22 persen laba bersih konsolidasian. Angka-angka itu membuat progres pemulihan pabrik menjadi faktor yang dicermati investor.
Kegiatan perkebunan kelapa sawit NUSA dilaporkan tetap berjalan normal. Perusahaan masih memperoleh pendapatan dari produksi TBS meski pengolahan di pabrik terhenti sementara.
PSGO berencana mengoptimalkan kapasitas pengolahan di pabrik kelapa sawit milik entitas anak lainnya. Langkah penyesuaian itu ditujukan agar target produksi dan pendapatan tahun 2026 tetap tercapai.
Namun, perseroan belum menyampaikan perhitungan terperinci mengenai dampak kebakaran terhadap produksi maupun pendapatan. Termasuk bila penghentian operasional PKS NUSA berlangsung selama beberapa bulan.
Fasilitas PKS NUSA telah diasuransikan melalui polis Property All Risk. Nilai pertanggungan mencapai Rp267,61 miliar, mencakup bangunan, mesin, dan stok sesuai rincian polis.
PSGO belum dapat memastikan apakah nilai itu cukup menutup seluruh kerugian. Pemeriksaan dan penilaian kerusakan masih berjalan, sehingga nilai pertanggungan tidak bisa disamakan dengan kerugian aktual maupun nilai klaim yang akan dibayarkan.
Perusahaan menyatakan akan mengupayakan penyelesaian klaim sesuai cakupan, syarat, dan ketentuan polis yang berlaku.
Sejumlah langkah pencegahan disiapkan agar kejadian serupa tidak terulang. Cakupannya meliputi peninjauan prosedur operasional standar, peningkatan inspeksi dan pemeliharaan mesin serta instalasi, dan penguatan pengawasan aktivitas berisiko kebakaran.
PSGO juga mengevaluasi kesiapan sistem proteksi kebakaran serta memperkuat pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawan. Hasil pemeriksaan insiden akan ditindaklanjuti sebagai bahan perbaikan sistem mitigasi risiko.
Hingga penyebab dan tingkat kerusakan diketahui menyeluruh, perkembangan operasional PKS NUSA, penyelesaian klaim asuransi, dan realisasi pengalihan pengolahan ke pabrik lain akan menjadi sorotan utama.