PENAJAM — Ribuan bibit mangrove resmi ditanam di pesisir Pantai Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam, dalam rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Kegiatan yang berlangsung Jumat (12/6/2026) ini melibatkan personel Polri, Bhayangkari, unsur Pemkab PPU, serta masyarakat yang turun langsung ke kawasan berlumpur.
Mangrove Jadi Tameng Alami dari Abrasi
Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara menyebut penanaman ini bukan sekadar seremoni. Ia menekankan bahwa hutan mangrove berfungsi sebagai pelindung alami pantia yang mampu meredam gelombang laut dan mengurangi dampak abrasi.
“Polri hadir bukan hanya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Andreas dalam keterangannya.
200 Orang Turun ke Lumpur, Gotong Royong Tanam Bibit
Para peserta menyusuri garis pantai yang berlumpur untuk menanam bibit di titik-titik yang dinilai membutuhkan penguatan vegetasi. Selain menahan abrasi, ekosistem mangrove juga menjadi habitat biota laut yang menopang keseimbangan pesisir.
Andreas menambahkan bahwa kawasan pesisir yang sehat berkontribusi langsung terhadap keberlanjutan sumber daya perikanan. Bagi warga setempat, sektor perikanan menjadi sumber penghidupan utama.
Investasi Jangka Panjang: Pemeliharaan Lebih Penting dari Penanaman
Kapolres mengingatkan bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak berhenti pada proses tanam. Menurutnya, pemeliharaan dan pengawasan bibit yang telah ditanam menjadi faktor krusial agar manfaatnya bisa dirasakan dalam puluhan tahun ke depan.
“Menanam adalah langkah awal, namun menjaga dan merawatnya adalah tanggung jawab bersama. Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi warisan yang bermanfaat bagi generasi mendatang,” tegas Andreas.
Ia berharap keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini bisa meningkatkan kesadaran kolektif. Dengan kolaborasi berbagai pihak, kawasan mangrove di Pantai Nipah-Nipah diharapkan tumbuh optimal dan memperkuat perlindungan pesisir dari ancaman abrasi yang kian nyata.