SAMARINDA — Muhammad Rizky Andriatna dan Dintyas Aqila Nurazizah, pelajar MAN 1 Samarinda, tampil sebagai juara pertama dalam penjurian AHM Best Student (AHMBS) 2026 tingkat Regional Main Dealer Astra Motor Kalimantan Timur 2. Penjurian berlangsung di Main Dealer Training Center, Samarinda.
Karya mereka berjudul "Pembuatan Eco-Briquette berbasis limbah oli bekas, plastik, dan serbuk kayu sebagai bahan bakar aktif". Inovasi ini menyisihkan karya pelajar lain dari berbagai sekolah di Kalimantan Timur.
Keduanya berhak mewakili Main Dealer Astra Motor Kalimantan Timur 2 ke tahap seleksi nasional. Di tingkat nasional, mereka akan berhadapan dengan puluhan pelajar dari seluruh Indonesia.
Apa Itu AHM Best Student 2026
AHMBS merupakan program tahunan Astra Motor Kalimantan Timur 2 selaku Main Dealer sepeda motor Honda dan bagian dari PT Astra International Tbk. Program ini sudah berjalan lebih dari dua dekade.
Gelaran tahun ini mengusung tema "Gen-Z Berkarya, Indonesia Berdaya". Tema tersebut mendorong ide kreatif pelajar yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi.
Komitmen Astra Motor Kaltim 2 di Dunia Pendidikan
Region Head Astra Motor Kalimantan Timur 2, Wendy Tenario, menyatakan program ini menjadi wujud komitmen perusahaan terhadap dunia pendidikan Tanah Air.
"Kami kembali menghadirkan AHMBS sebagai salah satu wujud nyata kami dalam berkontribusi aktif di dunia Pendidikan Indonesia sebagai salah satu langkah kami dalam mewujudkan generasi emas penerus bangsa," ungkap Wendy.
Ia menambahkan, pihaknya ingin terus mendukung setiap ide dan karya inovatif pelajar untuk upaya perbaikan berkelanjutan, khususnya di Bumi Etam.
"Melalui gelaran AHMBS ini, kami ingin terus mendukung setiap ide dan karya inovatif para pelajar untuk setiap upaya perbaikan yang berkelanjutan terlebih di Bumi Etam ini," tambahnya.
Tantangan di Seleksi Nasional Akhir September 2026
Rangkaian penjurian tingkat nasional dijadwalkan pada akhir September 2026. Para peserta akan ditantang mempresentasikan karya dan menghadapi tanya jawab komprehensif di hadapan juri nasional secara langsung.
Bagi Rizky dan Dintyas, tahap ini menjadi kesempatan mengukur sejauh mana inovasi eco-briquette mereka bersaing dengan karya pelajar dari provinsi lain. Karya berbasis pemanfaatan limbah oli bekas, plastik, dan serbuk kayu itu menyasar persoalan energi sekaligus pengelolaan sampah.
Penjurian regional sendiri telah dilaksanakan pada Sabtu (5/9) lalu. Dari gelaran itu, satu inovasi terbaik dari siswa-siswi Bumi Etam terpilih untuk melaju ke tingkat nasional.