SANGATTA — Bantuan alat berat dari dua perusahaan tambang itu menyasar jembatan yang menjadi urat nadi transportasi warga antarwilayah kecamatan hingga kabupaten di Kalimantan Timur. Crane berkapasitas 220 ton didatangkan langsung ke lokasi untuk mendukung pekerjaan perbaikan yang tengah berjalan.
Pengoperasian crane diestimasikan berlangsung 2 hingga 3 hari, terhitung sejak Kamis (22/10/2026). Perbaikan dikerjakan melalui koordinasi erat sejumlah instansi, mulai dari Dinas PUPR Kutim, Dinas Perhubungan Kutim, BPJN Wilayah Kaltim, hingga Pemerintah Kecamatan Bengalon.
Mengapa Jembatan Tebangan Lembak Vital bagi Warga Kutim
Jembatan Tebangan Lembak berperan sebagai penghubung utama mobilitas warga dan penggerak roda perekonomian di wilayah timur Kutai Timur. Akses yang lancar di titik itu menentukan kelancaran distribusi barang dan perjalanan sehari-hari masyarakat Bengalon dan sekitarnya.
Perwakilan manajemen KPC menyatakan bantuan penyiapan alat berat merupakan komitmen nyata perusahaan untuk membantu masyarakat sekaligus bersinergi dengan pemerintah daerah. Dukungan itu diharapkan mempercepat penanganan jembatan sehingga kembali dilalui dengan aman.
Crane 220 Ton dan Skema Kolaborasi "Keselamatan Akses Bersama"
Kolaborasi "Keselamatan Akses Bersama" menjadi wadah kerja sama KPC dan Dharma Henwa dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur daerah. Penyiapan dan pengoperasian crane menjadi bentuk konkret dari kerja sama tersebut.
Alat berat berkapasitas besar itu dipilih karena kebutuhan teknis perbaikan jembatan. Dengan kapasitas angkat 220 ton, proses pengangkatan material dan komponen jembatan dapat berjalan lebih cepat dibandingkan peralatan berkapasitas kecil.
Harapan agar Jembatan Kembali Dilalui dengan Aman
Pihak perusahaan berharap penurunan armada crane mempercepat penyelesaian penanganan Jembatan Tebangan Lembak. Setelah perbaikan tuntas, warga dapat melintas dengan aman dan aktivitas ekonomi antarwilayah kembali normal.
Langkah ini disebut sebagai wujud kemitraan harmonis antara pihak swasta, pemerintah daerah, dan masyarakat sekitar. Kolaborasi semacam itu dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembangunan Kutai Timur.