KALIMANTAN TIMUR — Mitsubishi Pajero Sport bernopol B-2058-KLO terperosok ke parit Tol Jagorawi Km 29+600B setelah menabrak guardrail, Senin (12/10/2026) sekitar pukul 05.10 WIB. Pengemudi berinisial RW (26) diduga mengantuk saat melaju dari arah Bogor menuju Jakarta. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kecelakaan tunggal ini.
Kepala Induk PJR Tol Jagorawi Kompol Akhmad Jajuli menjelaskan kronologi kejadian berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara. Kendaraan datang dari Sentul Selatan mengarah Cibinong dan bergerak di lajur 2 sebelum akhirnya oleng.
Kronologi: Oleng ke Kiri hingga Terperosok Parit
Menurut Jajuli, pengemudi diduga mengantuk sehingga kendaraan oleng ke kiri dan menghantam guardrail atau pembatas luar jalan tol. Posisi akhir kendaraan normal menghadap selatan di row atau parit.
"Faktor yang memengaruhi (kecelakaan), sopir mengantuk," ujar Jajuli, dikutip dari detikNews.
Kecelakaan terjadi saat arus lalu lintas pagi, waktu yang rawan karena banyak pengendara menempuh perjalanan jauh dalam kondisi kurang tidur. Tol Jagorawi sendiri menjadi salah satu ruas dengan volume kendaraan tinggi dari kawasan penyangga menuju Jakarta setiap hari kerja.
Mengantuk, Penyebab Kecelakaan yang Sering Diremehkan
Praktisi keselamatan berkendara dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menegaskan mengemudi menuntut fokus, kewaspadaan, dan kondisi fisik yang prima. Ketiganya sulit dipertahankan tanpa persiapan yang benar.
"Mengemudi harus mempertahankan fokus, kewaspadaan dan kondisi fisik, dan ini susah. Hal ini bisa didapat dari istirahat yang berkualitas sebelumnya, istirahat berkala selama di perjalanan, asupan makanan/minuman yang benar, menjaga emosi dan lain-lain. Sehingga oksigen di dalam darah dapat lancar dan tetap fokus," kata Sony.
Ia menyoroti kebiasaan pengemudi Indonesia yang kerap memaksakan diri melanjutkan perjalanan meski tubuh sudah memberi sinyal lelah. Padahal, mengantuk memperlambat waktu reaksi dan menurunkan kemampuan membaca potensi bahaya di depan.
Commentary Driving, Teknik Sederhana agar Tetap Fokus
Sony menawarkan satu metode praktis untuk melawan kantuk di perjalanan jauh, yakni commentary driving atau berbicara sendiri selama mengemudi. Pengemudi menyebutkan potensi bahaya, rambu, dan kondisi jalan yang terlihat.
"Commentary driving, sebuah metode mengemudi dengan menyebutkan potensi-potensi bahaya. Secara otomatis rahang bergerak-gerak memompa oksigen ke otak. Juga pengemudi mampu bereaksi positif ketika harus mengantisipasi. Ini standar cara berkendara dengan defensive (proaktif). Mudah, tapi nggak banyak yang tahu. Kalaupun tahu, tidak dilakukan karena merasa belum ada manfaatnya," ujarnya.
Teknik ini bekerja karena memaksa otak tetap aktif memproses informasi, bukan sekadar mengikuti alur jalan. Pengemudi yang terbiasa commentary driving cenderung lebih cepat merespons situasi darurat seperti kendaraan mendadak melambat atau ada penghalang di lajur.
Yang Bisa Dipelajari dari Insiden Ini
Kecelakaan tunggal di Tol Jagorawi menegaskan bahwa mengantuk bukan sekadar rasa lelah ringan, melainkan faktor risiko serius yang bisa berujung pada hilangnya kendali. Berbeda dari pecah ban atau kegagalan rem, kelelahan tidak muncul tiba-tiba dan sebenarnya bisa diantisipasi sejak sebelum berangkat.
Untuk perjalanan jarak jauh, pengemudi disarankan beristirahat berkualitas sebelum berkendara, berhenti berkala di rest area, dan menjaga asupan makanan agar tidak terlalu berat. Jika kantuk datang di tengah perjalanan, berhenti sejenak jauh lebih aman daripada memaksakan diri sampai tujuan.